Bismillah..
Sudah hampir setengah tahun aku
bekerja di Yayasan Mutiara Rahmah milik Ustadz Abdul Fattah, Sejak aku resign dari salah satu SMP Negeri di Balikpapan. Bekerja di sekolah
negeri memang menjanjikan prestisius dikalangan masyarakat pada umumnya. Jelas,
potensi jadi PNS, cita-cita oleh semua pegawai honor yang bekerja di bawah
naungan Dinas milik negara. Tapi, entah kenapa. Semuanya waktuku
tergunakan sebagian sia-sia. Setiap berangkat kantor kemudian pulang
kembali, tidak ada menfaat yang bisa ku jadikan investasi akhirat. Sebenarnya
ada. Semenjak aku mengajar di sekolah itu, aku sudah bisa menghadapi siswa,
memberi nilai pada saat kenaikan kelas, bagaimana cara mengadapai orang tua
siswa, bagaiamana berhadapan dengan teman sekantor, kesimpulannya adalah “Jadilah pendengar yang baik, walapun kamu
sebenarnya adalah pembicara yang hebat”.
Maka itu akan jadi modal, kau akan disenangi oleh lingkungan kerja
(sebagai tempat curhat ^0^).
Ok. Kali ini aku tidak akan bercerita
tentang sekolah sebelumnya atau tentang Bapak/Ustadz Fattah lebih detil. Tapi
lain kali aku akan menulisnya di halaman blog lainnya.
Dalam pandanganku sebagai tenaga
pengajar yang dari lingkungan sebelumnya yang sekuler. Mutiara Rahma adalah oase yang kucari-cari selama satu tahun
terakhir ini semenjak selesai kuliah. Lingkungan yang islami, anak kecil yang
lucu-lucu, dan yang terpenting aku dapat belajar banyak hal terkait islam dan
belajar banyak hal baru lainnya. Tentu saja Yayasan ini memenuhi semua dahaga
ini. Gaji adalah pilihan kedua, yang penting saya bisa belajar tanpa
mngeluarkan banyak biaya. Dan disini, aku dapat ilmu dan tentu saja gaji yang
cukup. Jazakallah khairan Ustadz Fattah, semua keluarga beliau, senantiasa
dilimpah keridhoan Allah, kesehatan dan rizki yang cukup, serta bahagia dunia
akhirat. Aamiin.
Bulan pertama aku mulai belajar
menambah do’a-do’a dzikir sebelum belajar. Beradaptasi, mengamati, berkenalan.
Bulan pertama itu, aku lebih suka banyak diam, ketimbang banyak cerita. dengan
begitu aku lebih banyak merekam dan menyesuaikan dengan pola tingkahku
kedepannya untuk dapat bersosialisasi dengan baik. Mencoba karab dengan anak
waliku di kelas. Oh iya, aku adalah wali kelas dari kelas 4C Al Fatih. Tapi
sekarang sudah dirybah namanya menjadi Abu Wafa. Tentu saja adalah perintah
langsung dari Ustadz Fattah. Mungkin Karena Al-Fatih adalah Penakluk atau
pejuang di medan perang, bukan ilmuan saintis (Yayasan punya visi membangun karakter Da'i dan saintis)
Yang paling mengesankan adalah ketika
jam pagi, sebelum waktu shalat Dhuha, guru-guru di haruskan untuk menyambut
kedatangan anak-anak. Lucuuuu....Wajah mereka segar, rata-rata mata meraka bulat besar, bening,
seperti boneka, polos, ceria.
“Assalamu’alaikum Miss (panggilan
guru-guru perempuan yang belum menikah)”, sapa yang baru datang.
untuk siswa perempuan dapat salaman
dengan guru yang perempuan sedang yang laki-laki dibiasakan tidak dan
sebaliknya. Untuk yang laki-laki, tangan mereka cukup di katupkan di depan
dada, kemudian mengucapkan salam.
Batas waktu jam kedatangan adalah
pukul 07:30, lebih dari itu, maka siswa di katakan, terlambat. Sedang untuk
seluruh karyawan paling lambat puku l07:15 wita, sudah harus berada di sekolah.
Bulan pertama saya sering datang pukul 07:05 wita, bulan kedua sudah hampir
terlambat, masuk bulan ketiga, terkadang datang terlambat lebih dari 10 menit,
pukul 07:20 wita. Bagiku itu adalah kegagalan. T.T.....
*****
Di sekolah, ada jam khusus untuk
belajar tahsin (belajar huruf
hijaiyyah dengan penyebutan baik dan benar, panjang pendek bacaan, serta
hukum-hukum bacaan Al-qur’an) aku belum begitu kenal dengan metode belajarnya.
Tapi menurutku, ini menyenangkan. seperti tujuan awalku masuk kerja di Yayasan
Mutiara Rahmah adalah belajar mendalami ilmu islam. Termasuk baca Al Qur’an.
Para pengajar menggunakan Metode Ummi.
Metode Ummi yang aku dapatkan ketika
pelatihan awal masuk MT, adalah;
-
Direct Methode =
Mengajarkan langsung pada pokok pembahasan(memberikan
komentar bacaan).
-
Repetition = Mengulang-ulang bacaan.
-
Afection = Mengajar dengan kasih sayang yang
tulus.
Motto : “Mudah, menyenangkan,
menyentuh hati”.
VISI :
Menjadi lembaga terdepan dalam melahirkan generasi Qur’ani.
MISI :
- Mewujudkan pusat pengembangan
pembelajaran Al Qur’an
-Membangun sistem manajemen
Buku Umii ada 8, yaitu; jilid 1-6,
kemudian linjutkan belajar ghorib dan tajwid.
Mutu Guru :
-
Tami
-
Menguasai
Ghorib dan Tajwid
-
Membaca
Al-Qur’an setiap hari
-
Menguasai
Metodologi
-
Berjiwa
da’i dan Murobbi
-
Disiplin
waktu
-
komitmen
pada mutu
7 PROGRAM DASAR UMMI :
1. Tashih (Pemetaan)
2. Tashih (Perbaikan bacaan Al Qur’an)
3. Sertifikasi (standarisasi
metodologi)
4. coach (pendamping)
5. Supervisi (pengawalan mutu)
6. Munaqosah (ujian akhir
siswa/santri)
7. Khotoman/intihan (uji publik
siswa)
Metode pembelajaran UMMI, yaitu;
1. Private/ individual
2. Classic individual
3. Classic baca simak
4. Classic baca simak murni.
Pengaplikasian:
1. 5 menit persiapan
-
salam
-
tanya
kabar
-
baca
do’a pembuka
2. 10 menit hafalan ;
-
Apresepsi
-
pemahaman konsep
-
pemahaman
-
keterampilan
-
evalusi
3. Classical
-
Apresepsi
-
Pemahaman konsep
-
pemahaman
-
keterampilan
4.
10 menit, baca simak
- evaluasi
5.
5 menit, dril, penutup do’a
- Drill materi
- Drill hapalan
- do’a penutup.
keyword
:
- diulangi!
-
jangan
lupa dibuka mulutnya!
-
yang
ini dibaca...
-
yang
ini hurufnya....
-
anak-anak,
yang sudah dipelajari..
*******
Nah,
begitu yang ada dicatatan pelatihanku selama 1 minggu, dulu (awal bulan januari
2018). Satu saja niatku. Aku hanya ingin bisa baca AL Qur’an secara terampil.
kemudian kelak akan ku ajarkan dengan anak cucuku. Aku suka bisnis, dan aku
senang ketika belajar islam, aku bisa tahu keuntungan yang tidak ada habisnya.
Yaitu amal jariyah. Salah satunya adalah mengajarkn Al-Qur’an.
Jika
di flashback , 6 tahun lalu (kuliah
semester 1-2 di Fakultas Seni dan Desain), aku yang sering bolos pada saat jam
belajar tahsin, kuliah pendidikan agama islam. waktu SMA pun begitu, segera
mencari tempat aman ketika pelajaran bahasa Arab. Aku tidak suka pake kerudung,
dan anti. Aku pernah coba menggunakan kerudung, selendang. tapi, tetap saja
tidak nyaman. Dan aku menjadi bukan seperti diriku sendiri, aku menjadi seperti
orang lain. Entahlah, kenapa dulu aku begitu tidak respect sama sekali dengan agamaku sendiri. Yang aku tahu, agama itu
adalah sesuatu yang membosankan. Isinya hanya cerita surga dan neraka. Namun,
sebenarnya takut juga ketika kurenungkan. Tapi sesaat hilang ketika ada teman ngajak main keluar.
Pada
awal bulan April (semester 8), akhir aku
hijrah. Dan mengenal dan belajar lebih banyak tentang islam. Sekarang aku baru
UMMI JILID II. Perjalananku masih panjang. Dan sekarang, cita-citaku yang ingin
kugapai adalah.... jadi ibu rumah tangga
dan guru ngaji. Dan sudah.... cukup, aku tidak ingin yang lain.
Kalaupu ada, itu hanyalah bonus dari
Allah Azza wa Jalla.
Alhamdulillah.
Rasulullah bersabda:
“Sebaik-baiknya kamu adalah orang
yang belajar Al-Qur’an dan yang mengajarkannya”
(HR.
Bukhari)
BAGUS....
ReplyDeletewoohooooo..terimah kasih senior. oo iya, aku mau buat pengakuan. bahwa saya menyesal tidak belajar menulis dari dulu...v.v. Terima kasih ilmunya, selama perjalanan ke Selayar kemaren. ^_^
ReplyDelete