Juita Rasmana, Balikpapan, 30 april 2018, 21.30
يَا
أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا
خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ
Hai orang-orang yang beriman, masuklah
kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan.
Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.
(Al- Baqarah : 208)
Tafsir Jalalyn:
Ayat berikut diturunkan mengenai Abdullah bin
Salam dan kawan-kawannya tatkala mereka membesarkan hari Sabtu dan membenci
unta sesudah masuk Islam. (Hai orang-orang beriman! Masuklah kamu ke dalam
agama Islam), ada yang membaca 'salmi' dan ada pula 'silmi' (secara
keseluruhan) 'hal' dari Islam artinya ke dalam seluruh syariatnya tanpa
kecuali, (dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah) atau jalan-jalan (setan),
artinya godaan dan perdayaannya untuk membeda-bedakan, (sesungguhnya ia musuhmu
yang nyata), artinya jelas permusuhann.
****
Hari ini, Senin 30 april 2018. Seperi biasa, aku berangkat
dari rumah pukul 06.30 kemudian tiba
sekolah SD IT Mutiara Rahmah pukul 07.10 wita. Dan seperti biasa pula,
aku sudah melihat Ustadzah Sumiyati (Kepala Sekolah) sudah berdiri di samping
gerbang sekolah, menyapa anak-anak yang baru datang dan membukakan pintu mobil
antar anak jemput anak sekolah. Begitulah rutinitasnya tiap pagi. Dan aku
penasaran, jika kamu bekerja di salah satu sekolah, apakah kepala sekolahmu
juga seperti itu? (tentu saja aku memandang ini dalam hal positif, dedikasi
kepala sekolah yang begitu rendah hati seperti beliau).
Setelah saling menyapa dan bersalaman dengan
miss Nia, aku langsung masuk kelas, dan mengisi jurnal kegiatan. Singkat
cerita, hari ini adalah hari dengan perasaan yang sama. Bahagia, menyenangkan
dan kunikmati setiap waktu yang berjalan setiap kali aku masuk kelas dan tatap
muka dengan siswa-siswaku yang senatiasa ceria, ada yang ketus, ada yang selalu
protes setiap diberi tugas, ada yang suka menggelayut, ada yang suka curhat.
Walaupun begitu, tetap saja senantiasa meninggalkan rasa rindu, setiap hari
libur tiba.
Beberapa pekan lalu, pada jam istirahat, sering kali aku
mengamati terkait apa saja yang mereka obrol, dengan teman sebangku meraka, terkadang jika
salah satu dari mereka punya cerita yang menarik, dua belas anak dari tiga
belas siswa itu langsung berkerumun seperti semut ketemu butiran gula. Adapula
yang memamerkan koleksi pinder. Ketika
melihat pinder, otakku otomatis mengflash back memoriku tahun 2006 lalu.
Waktu aku masih kelas 6 SD.
********
Saling tukar kertas pinder adalah hal yang
menyenangkan kurasa. Waktu itu selain bertukar kertas pinder, kamipun suka saling bertukar biodata. Kalau tidak
salah,mungkin karena dekat dengan hari kelulusan SD, dengan cara saling
bertukar biodata, kami bisa saling menyimpan dan mengarsipkannya sebagai
kenang-kenangan yang tidak bisa kami lupakan. Bahwa kita dulu pernah satu
sekolah dan pernah melewati hari yang menyenangkan, menjengkelkan, menegangkan
(ujian sekolah), berpetualang, menakutkan, tegang, perkelahian, dan masih
banyak lagi ekspresi yang kita lalui bersama hari itu.
Dalam biodata itu, kami biasanya menuliskan
kolom nama lengkap, nama panggilan, agama, hobi, makanan favorit, minuman
favorit, kata mutiara, pesan, dan kesan, atau nomor telfon (jika punya dan
biasanya kalaupun ada itu adalah nomor telfon rumah. Karena zamanku (tahun
2006) rata-rata kami belum punya Handphone.)
Yang menjadi fokusku dalam tulisan ini, yang
menarik adalah setiap pada kolom agama, aku selalu mendapatkan keterangan
“agama : Islam 70 %” ada pula yang 80%, ada juga 99,9 %, ada juga yang menulis,
“agama : islam (KTP)” dan semua tulisan itu masih teringat jelas di otakku. Aku
sendiri menulis kolom agama dengan keterangan “ agama: islam 50%”.
Perhitunganku hari itu adalah karena aku
tidak pernah dzakat (dzakatku dibayarkan oran tua), jarang shalat, puasa
bolong-bolong, dan aku belum naik haji. Dan tidak pernah berkurban. Tapi yang membuat aku merasa beragama
islam adalah karena kedua orang tuaku
beragama islam dan sudah pasti agamaku juga islam. Dan aku sudah berucap
kalimat syahadat. Tidak lebih.
Kebiasaanku, setelah pulang dari sekolah, aku
langsung pergi ngaji di masjid belakang rumah. Hanya beberapa bulan berjalan, karena membosankan,
kuputuskan untuk berhenti diam-diam tanpa sepengetahuan om dan tanteku. Adapun
aku ikut belajar ngaji itu karena di
suruh olehb tanteku. Karena merasa tidak enak dan dipaksa-paksa, akhirnya aku
memutuskan ikut. Walaupun sebenarnya tak ada minat, karena aku tahu, metode
belajarnya pasti tidak menarik (metode klasik : mendengar dan mengikuti guru
cara membaca dan itu disimak satu-satu oleh gurunya, tentu saja jadi sebuah
antrian yang panjang utnuk menyimak semua siswa). FYI (for your information), waktu SD, aku tinggal bersama adik ibuku
yang biasa kupanggil acil (dalam
bahasa paser) Om (suami tanteku),
nenek, kai’ (kakek), Tika dan Putri
(adek sepupu). Orang tuaku memutuskan untuk menitipkan aku kepada mereka agar
akses pendidikanku lebih mudah dan terjangkau lebih luas. Lain waktu aku akan
bercerita terkait biografiku di laman blog lainnya. insyaAllah.
Nah, keterangan tersebut, sebenarnya aku
hanya meberi tahu kepada pembaca, bahwa dulu sebenarnya pemahamnku adalah islam
keturunan. Dan islam itu hanya terkait, dzakat, haji, puasa, shalat, berkurban. Dan.............................
nanti aku lanjutkan lagi, tiba-tiba mouse laptop ini sulit d gerakkan, dan mataku sudah berat. yang jelas hari ini aku ada menulis (aku terispirasi dengan salah satu seniorku waktu kuliah namanya Laode Ghaniyu. Bahwa dia berjani, untuk selalu produktif menulis setiap hari. dan aku terispirasi untuk melakukan hal yang sama)
nanti aku lanjutkan lagi, tiba-tiba mouse laptop ini sulit d gerakkan, dan mataku sudah berat. yang jelas hari ini aku ada menulis (aku terispirasi dengan salah satu seniorku waktu kuliah namanya Laode Ghaniyu. Bahwa dia berjani, untuk selalu produktif menulis setiap hari. dan aku terispirasi untuk melakukan hal yang sama)
TO BE CONTINUE.........
01 Mei 2018, 21.00
Singkat cerita, cara pandangku “agama : islam 50%”
itupun berlangsung hingga bangku perkuliahan. Di semester satu dan dua, aku
sempat mendapatkan mata kuliah agama islam. dua SKS saja waktu itu dalam satu
pekan. Tapi bisa dihitung hanya beberapa kali saja saya mengikuti mata kuliah
tersebut. Tapi karena dosennya baik ( Beliau namanya Pak Ali dan sudah almarhum
dan jasanya akan selalu kuingat lewat ceritaku dalam blog ini T.T), dapatlah
aku nilai B. Bukan masalah besar menurutku yang penting aku tidak mengulang di
tahun depan.
Semua berlangsung selama empat tahun enam bulan.
Singkat cerita, di akhir semester sembilan, aku mendapatkan jawaban dari apa
tujuan hidupku sesungguhnya. Jujur saja selama 4,5 tahun berjalan, aku adalah
seorang yang sangat liberal. Aku menjalani hidupku dengan bebas dan bagaimana
terus berusaha membuat diriku terus merasa bahagia. Tapi hasilnya, tidak
seperti yang diharapkan. Aku tidak pernah merasa cukup dengan semua yang aku
dapatkan. Baik itu dari sisi sosial, ekonomi, apa lagi fitrahku sebagai manusia
yang senatiasa butuh untuk selalu beribadah.
Sebenarnya, aku tahu aku beragama islam. Dangan cara
shalat itu sudah memenenuhi kewajibanku sebagai seorang muslim. Dan memenuhi
fitrahku sabagai manusia yang senatiasa butuh beribadah. Tapi aku tidak pernah
mendapatkan jawaban, kenapa setiap saat aku menjadi manusia yang tidak tahu
kemana tujuan hidupku sebenarnya. Karena yang selama ini aku kejar adalah
memenuhi kebahagiaan orang tuaku dan tanpa aku harus merasa tertekan dengan
segala tuntutan yang ada. Tujuanku Cuma satu, senatiasa merasa terus bahagia.
Dan pada suatu saat aku shalat dan berdo’a. Walaupun
aku seorang leberal, tapi aku percaya, bahwa Allah itu ada dan yang aku tahu
bahwa Ia Maha Mendengarkan hamba-Nya. Itu yang aku ingat dari hapalan
Sifat-sifat Allah waktu kelas satu SMP. Isi Do’aku begini kalau tidak salah
ingat;
“Bismillahirahmanirrahim, Ya Allah, saat ini aku
benar-benar tidak tahu, apa sebenarnya aku lakukan dan untuk apa sebenarnya
hidup di dunia, kenapa semua setiap permasalahan-permasalah yang saya hadapi
dan tak pernah ada jalan keluar? kenapa semua yang aku inginkan tidak pernah
tercapai? aku layaknya seperti layang-layang putus ketika tak ada seseorangpun
yang bisa kujadikan pegangan, sekarang aku tidak tau harus bagaimana untuk
tetap hidup tanpa tekanan yang begitu berat, Ya Allah berikan
petunjukmu...”
Satu pekan itu entah kenapa aku begitu sangat rajin
shalat 5 waktu, tanpa ada beban atau merasa terpaksa. Sambil tetap ku gaungkan
do’aku setiap setelah shalat magrib. karena waktu itulah yang menurutku paling
khusuk saat berdo’a.
Dan dikemudian hari, aku sedang latihan Tari di baruga
kampus bersama junior-juniorku angkatan 2013 untuk pengambilan nilai Mata
kuliah Tari Tradisional (Hari itu aku belajar tari Malettu Kopi, tari
khas Toraja). Karena satu semester itu aku banyak mengulang Mata kuliah,
termasuk salah satunya mata kuliah ini. Tiba-tiba saja ada seorang perempuan
berkerudung panjang dengan gamis warna coklat menghampiriku disela-sela waktu
istirahat. Kemudian menyapa ku,
“Permisi kak, saya Ana dari LDK Fosdik.” Jelasnya.
“Oh,Iye. Ada apa ya?” tanyaku.
“Begini, besok ada kegiatan Seminar: Mahasiswa Dalam
Pusaran Wirausaha. Jadi hari ini kami mau pasang perlengkapan background dan perlengkapan lain.”
Jelasnya lagi.
“Oh, begitu. Bagus dong. ya udah pake aja. Eh,
ngomong-ngomong ini acara untuk bagaimana cara jadi enterpreneur gitu ya?” tanyaku lagi antusias.
Ana hanya menjawab dengan senyuman saja.
“Kalau kakak besok mau datang, datang saja. Ini
tiketnya.” Ia menawarkan
“Ia, boleh deh. InsyaAllah besok saya datang.”
Jawabku.
“Oh iya, tiketnya dibawa aja kak, besok aja beru
dibayar”
“Sip, terima kasih ya.” jawabku.
Kemudian ia pun mengahampiri teman-temanya yang sudah menunggu
sekitar empat meter di belakangnya. Hari itupun aku dan junior-juniorku yang
lainnya kembali melanjutkan latihan tari. Sesaat kulihat dari jauh, perempuan
tadi dan kawan-kawanya berdiskusi sebentar, kemudian berlalu kembali ke masjid
yang tepat berada di seberang baruga tempat aku latihan tari.
****
Hari itu, hari Sabtu 28 Maret 2015. aku bangun pagi sekali. mengingat waktu di
tiket itu , menunjukkan waktu acara 08.30 wita. Agak siang memang. Tapi aku
ingin bangun lebih pagi agar persiapanku datang ketempat acara lebih
sehat,bugar, dan fit. Dan tentu saja saja hari itu aku tidak lupa untuk shalat
subuh terlebih dulu.
Singkat cerita, setibanya di Baruga Colli Puji’e FSD
UNM pada pukul 08.00, aku agak heran kenapa yang hadir semua berpakaian muslim
ya?, padahalkan materinya terkait enterpreneur?.
Hari itu aku menggunakan kemeja panjang berwarna cream dengan celana kain
panjang berwarna hitam lengkap dengan sepatu flat, berwarna cream agar
terlihat match, feminim dan sesuai dengan tema yang diharapkan. Apa yang
kuharapakan tidak sesuai kenyataan, aku melihat semuanya menggunakan pakaian syar’i. Dan tentu saja tidak ada yang
berpakaian seperti aku. Dan semuanya yang ada di sana adalah mahasiswa
perempuan.
Karena aku adalah sosok yang cuek. Tidak peduli dengan
keadaan, maka aku langsung masuk ke dalam kegiatan acara. Memeberi dan membayar
tiket masuk. Akupun ditanya oleh seseorang panitia acara hari itu,
“Kak, maaf. Kakak di ajak dengan siapa ya?” tanyanya.
“Ana.” Jawabku dengan senyum singkat. Karena aku
terlalu malas bicara. Biasanya jika masuk dalam linkungan baru, aku lebih suka
mengamati dan mempelajarinya terlebih dulu.
“Oh, Iye’
kak silahkan masuk dan mengambil tempat” Jawabnya sopan dengan senyum ramah.
“Kak, maaf ya kalau bisa duduknya ditempat yang paling depan saja.” jelasnya
lagi.
“Siap.” Karena aku antusias dengan materi yang di
adakan acara hari itu, aku pun setuju dengan tawarannya. Setengah menit
kemudian, acarapun dimulai. Akupun hanyut dalam setiap rangkaian acara
tersebut.........
Singkat cerita, dari apa yang aku dapatkan dari isi
kegiatan seminar tersebut adalah aku malah mendapatkan istilah-istilah baru
yang malah menjadi beban pikiranku, mulai dari pertanyaan apa itu islam? apa itu syari’at yang menyeluruh?, apa itu
sistem daulah islam?.
Setelah acara selesai, pukul 12.00 aku segera
buru-buru pulang. Karena hari itu aku juga membuat janji dengan temanku untuk
menemaninya menjaga stand Batu Akik, di salah satu pusat perbelanjaan
Makassar. Pasar Segar. Akupun pamit dengan panitia, dan segera berlalu.
Sesampainya di stand
. Aku bertemu dengan sahabatku. Hasni. Sekarang dia sudah jadi guru SMP
disalah satu sekolah negeri, di Kabupaten Bantaeng. Dan juga sudah menjadi ibu
dari satu tahun yang lalu, Tahun 2017. Sekarang tahun 2018. Setelah cipika cipiki. Aku merenung, dari apa
yang aku terima dari materi tadi pagi. Tetapi tidak kunjung juga
mendapatkan jawaban. Hari itu aku mengahbiskan banyak waktu berkeliling melihat
koleksi-koleksi para penjual batu akik. Dari sana aku tahu jenis jenis batu
akik, tapi sekarang aku sudah lupa. Tapi yang paling aku suka adalah Batu Kali
Mayang. Karena warna batunya putih bening dan warna-warna cahaya pelangi di
dalamnya.
********
Esoknya, hari senin. Aku mengontak Ana yang mengajakku
untuk ikut seminar tersebut. Karena aku tahu, dia pasti anak yang baik, dan
pantas dijadikan sahabat. Ku sms dia untuk datang hari senin di kontrakanku,
untuk makan siang bersama. FYI, senin Tanggal 30 maret adalah hari ulang tahunku.
Hari itu adalah hari terakhir aku merayakan ulang tahun. Dan hari itu aku masak
bubur jagung. Dan niatku untuk makan bersama Ana.
Malamnya teman-teman KKN ku datang, aku mengontaknya
di grub BBM (BlackBerry Massanger) tahun
2015 yang masih hits adalah aplikasi BBM. Dan merekapun
datang dan makan masakannya yang telah kubuat. Sebenarnya aku tidak begitu
yakin masakanku enak atau tidak. Yang jelas mereka datang dan kumpul dan bisa
reuni. Hahaha..tidak peduli masakanku.
*******
Hari seninnya aku tidak kuliah, karena tidak ada
kuliah hari itu. Kuliahku hanya tiga hari dalam sepekan. Mata kuliah yang
kuperbaiki adalah Management Tata Pentas, Tari Tardisional, dan Teori
Musik. Di hari lainnya aku nganggur
hanya dirumah saja. Dan aku memutuskan untuk menelfon Ana, agar segera datang
kerumah. Waktu itu baru pukul 11.00, dan waktunya makan siang. Ya, aku
berinisiatif saja untuk mengajaknya kembali. Barangkali dia malu makanya ia
tidak mengkonfirmasi balik pesanku sebelumnya.
Akupun menelfonya, katanya dia tidak bisa datang
karena tidak punya kendaraan untuk datang dan sebentar lagi waktu shalat
dzuhur. Kuputuskan untuk menjemputnya. Dan setiba di rumah kontarakan, aku
pesilahkan duduk ia di kursi tamu. Ruangan dengan ukuran lima enam kali tiga
meter. Aku tahu walaupun aku tidak pernah mengukurnya. Dan ada kursi kayu
panjang berukir berwarna hijau bagian tempat duduknya. dan ada kursi untuk satu
orang di sana Lengkap dengan meja tamu beberbnetuk persegi panjang. Cat
ruangannnya warna kuning muda dan sudah mulai tekelupas. Dan aku pun segera
mengeluarkan masakanku yang telah kupanaskan.
Hari itu, aku tidak ingin cerita terkait apa isi
materi yang aku dapatkan kamaren. Aku hanya berniat untuk bagaimana caranya aku
bisa akrab dan memperoleh lebih banyak ilmu darinya. Dari cara dia bicara
dan bersikap. Aku tahu dia seorang yang punya banyak ilmu dari pemahaman islam
yang tentunya bisa membawaku ke jalan yang lebih baik. Aku hanya bertanya hanya
sekitar kegiatan dan kesibukannya setiap hari di kampus. Dan mengorek informasi
siapa sebenarnya Si Ana. Dari penjelasanku ini, kau pasti kamu pasti sudah
tahu. Bahwa aku sangat mudah akrab dengan seseorang jika aku ingin. Jika tidak
tidak, ya aku akan jadi sosok yang introvert.
Dari pembiacaraan, informasi yang aku dapatkan, dia
adalah seorang mahasiswa dari Fakultas MIPA (Matematika, Ilmu Pengetahuan
Alam). Kalau tidak salah dia suku Bugis Sengkang. Dan Nama lengkapnya adalah Muflihana. Aktivitasnya masih sibuk
dengan kegiatan kuliah pada umumnya mahasiswa. Dia baru semester 8, dan umurnya
sama denganku 21 tahun. Setelah mendekati waktu dzuhur, akupun kembali
mengantarnya ke masjid kampus. Maaf aku lupa nama masjidnya apa. Dan aku kembali pulang, dan kembali berleha-leha
di kontrakan.
****
Esoknya, aku pergi kuliah seperti biasa. Tapi hari ini
aku tidak langsung ke Faksultas Seni untuk nongkrong seperti biasa dengan
teman-teman di kampus. Tapi aku lebih memilih ke Fakultas MIPA. Malam itu
setelah bertemu dengan Hana (kupanggil saja dia Hana, agar jika ada yang
memanggilnya dengan nama itu, dia langsung tahu bahwa itu aku, Juita) aku di
kontaknya untuk bertemu d fakultas MIPA untuk berbincang-bincang terkait
apapun, kegiatanku, pahamku terkait agama, bagaimana pergaulanku. Dan banyak
lagi yng ku bagi dengannya. Intinya aku sudah percaya dengannya. Makanya aku
berani berbagi.
Hari itu aku cukup lama bertemu. Dan besoknya aku
diajak untuk bertemu kembali, untuk ikut berkumpul dan berkenalan dengan
teman-teman yang lainnya. Pakaian mereka sama. Kerudung dan gamis. hanya saja
beda variasi warna. Hana menjelaskan padaku.
“Teman-teman disini, punya banyak kegiatan, mulai dari
jaga stand buku bacaan, buat kegiatan seminar, talkshow, dan lain-lain.
Tujuannya hanya satu menyiarkan syari’ah islam kaaffah”. Jelasnya
menggebu-gebu.
Aku hanya mengangguk-angguk menyimak. Dan tentu saja
banyak diam (mengamati).
Setelah itu, hari-hari berikutnya....aku banyak
meluangkan waktuku bertemu dengan Hana. Dan intens. Dan aku mulai terbiasa
dengan suasana di Fakultas MIPA. Teduh dan sepi. Tidak seperti Fakultas Seni.
Banyak suara musik, tawaan, dan lain-lain. Dan tentu saja pemandangan
yang berbeda. Di fakultasku bebas menggunakan celana jins, kaos oblong,
dengan gaya selenge'an, rambut gondrong, itu gaya cowok seni. Ceweknya
tentu saja, modiest. Kalau aku lebih suka menggunakan celana panjangan
lapangan dan kaos oblong dengan sepetu kets, dan tas kecil lapangan.
Rambutku sering kuikat kepang di belakang, seperti tomb rider. Simple.
Karena aku salah satu anggota MAPALA (Mahasiswa Pencinta Alam), jadilah
kau lebih nyaman dengan gayaku sperti itu.
Jujur saja selama 4, 5 tahun baru saja aku masuk d
Fakultas MIPA. Sebelumnya aku hanya berkutat dilingkungan FSD (Fakultas Seni
dan Desain).
Minggu berikutnya, aku diajak Hana untuk belajar
islam. Dan inilah awal perjalanan perjalanan hijrahku dimulai....
TO BE CONTINUE.................................................................................




