Blog Archive

Monday, June 4, 2018

SISWAKU, GURUKU.



فَسْئَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِن كُنتُمْ لاَتَعْلَمُونَ
“Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.”( QS. An Nahl :43)
لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يُجِلَّ كَبِيرَنَا، وَيَرْحَمْ صَغِيرَنَا، وَيَعْرِفْ لِعَالِمِنَا
“Tidak termasuk golongan kami orang yang tidak memuliakan yang lebih tua dan menyayangi yang lebih muda serta yang tidak mengerti (hak) orang yang berilmu (agar diutamakan pandangannya).” (Riwayat Ahmad)

Tidak terasa waktu telah berjalan selama enam bulan. Sabtu tanggal 09 Juni 2018 adalah hari pembagian raport. Yang artinya lepas sudah tanggung jawab saya dalam membimbing tiga belas anak kelas 4C (Kelas Abu Wafa). Dan selama itu pula saya beradabtasi pola belajar di sekolah Mutiara Rahmah. Mengukur kemampuan saya dalam mentransfer ilmu kepada peserta didik. Memanajemen emosi. Manajemen kelas agar tetap menyenangkan setiap jam pelajaran. Dan tentu saja mempelajari karakter peserta didik saya satu-satu.
Dalam hal ini, selama kegiatan belajar berlangsung, saya jarang sekali mendominasi peserta didik dalam di dalam kelas. Kebanyakan saya lebih mengamati dan  memberikan sedikit teori. Khususnya terkait tentang ilmu keislaman. Semisal membaca Qur’an secara tartil, bacaan- bacaan dzikir. Jujur saja saya lebih bnyak belajar dari mereka lewat pembiasaan.
Suatu saat ketika saya baru masuk dalam kelas 4C (Abu Wafa). Kelas dengan ukuran lima kali dua meter, kurang lebih. Serta tempelan-tempelan gambar berwarna-warni tentang aturan kelas, kata-kata motivasi, vocabulary, rumus-rumus matematika dan banyak lagi. Akhirnya beberapa gambar saya lepas. Katanya akan menambah konsentrasi siswa di depan kelas jika gambar-gambar di samping kanan-kiri siswa dihilangkan (dalam buku Mengajar seperti di Finladia). Dengan kursi berjumlah tiga belas. Dan meja kayu dengan jumlah enam potong dengan ukuran memanjang. Serta satu meja kayu pendek khusus untuk satu orang. Yang disusun berbaris ke belakang. Sederhana. Dan saya pribadi cukup penasaran, kenapa sekolah ini begitu jadi buah bibir para orang tua atau para kelompok dakwah untuk ingi menyekolahkan anaknya di sini atau hanya sekedar sebagai tenaga pengajar. Dan saya sendiri tujuannya adalah untuk belajar banyak hal terkait islam dan ingin menanamkan investasi akhirat walaupun ilmu yang saya dapatkan sangat sedikit.
Hari pertama saya mengajar. Januari 2018. Saya duduk di depan kelas yang masih kosong. Tentu saja sudah saya bersihkan di hari sebelumnya. Sebelum siswa masuk di hari  aktiv belajar. Dan hari itu saya sudah siap untuk menghadapi wajah-wajah baru. Menurut saya mudah. Karena hanya menghadapi anak kecil dan memberikan beberapa materi yang menarik, and done.
Pembiasaan pertama yang saya lakukan adalah:
1.    Menyambut dan memberi salam
2.    Shalat dhuha berjama’ah
3.    Membaca doa Dhuha kemudian di lanjutkan dzikir dan do’a belajar
4.    Muroja’ah surah-surah pendek
5.    Memberikan Semangat dan motivasi belajar.
Jujur saja dari beberapa pembelajaran tersebut, masih banyak yang belum saya ketahui ilmunya. Misalnya pada saat muroja’ah. Mereka sudah menghapal surah Abasa, An Nazi’at, An Naba’. Sedang saya baru saja menyelesaikan surah Al Qadar. Tentu saja itu jadi PR besar buat saya untuk banyak belajar. Dan beberapa bacaan-bacaan dzikir yang belum saya hapal secara utuh.
Ini salah satu pengalaman menarik ketika saya sedang memberikan pesan-pesan dan motivasi kepada siswa saya.
“Anak-anak, ustadazah ingin berpesan. Ustadzah orangnya pelupa. Dan mohon jangan marah kalau ustadzah akan sealu menanyakan nama kalian pada pekan-pekan pertama ustadzah mengajar ini. Mohon kerja samanya ya.” Pesanku pada mereka.
“baik ustadzah.” Jawab mereka bersamaan.
Jam pertamapun dimulai. Hari itu kami belajar Bahasa Indonesia. Temanya tentang Lingkungan. Dan masuk pada pembahasan terkait pengumuman. Setelah memberikan sedikit penjelasan letak penulisan surat pengumuman, sayapun memberi tugas untuk memperhatikan letak tulisan yang ada di buku. Sementara saya membuat contoh surat di papan tulis. Dengan mengosong kalimat di beberapa bagian surat. Agar menjadi menjadi soal latihan.
Sementara itu, semua siswa masih dalam keadaan tenang. Semua sibuk memperhatikan dan ikut menulis seperti apa yag saya tulis di white board. Kemdian ada salah satu siswa yang masih sibuk menggambar. Hari itu saya belum terlalu hapal namanya. Hari pertama mengajar, saya tidak ingin banyak menegur. Dan masih memberikan kompromi. Mungkin karena ia tidak begitu metode belajar ceramah. Maka ia sibuk dengan dunianya sendiri. Pikir saya.
Setelah pekerjaan semua siswa selesai, saya meminta mereka untuk maju, dan melengkapi beberapa bagian kalimat yang kosong di papan tulis. Dan anak tersebut masih sibuk dengan gambarnya. Dan saya masih belum menegur. Hingga bebera saat saya tidak sabar. Dan akhirnya saya menanyakan. ” Maaf, kamu namanya siapa nak?” tanyaku. “Dida Ustadzah” jawabnya spontan. “sudah selesai tugasnya?” tanyaku lagi. “belum ustadzah.” Jawabnya pelan. “oke. Kalau begitu kerjakan di rumah ya”. Jelas saya. Diapun diam. Ada rasa jengkel. Sedikit. Tapi saya harus cari metode belajar agar anak ini bisa fokus belajar.
Singkat cerita, Jam pulangpun tiba. Setelah membaca do’a naik kendaraan dan kafaratul majelis, semua siswa salaman dan pamit untuk pulang. Tiba-tiba Dida, si anak yang kerjanya dari tadi hanya menggambar pada jam mengajar saya memberikan sesuatu. “Maaf, ustadzah. Ini buat ustadah” jelasnya. “Waaa..iya ya. Jazakillah Dida.” Kemudian ia salaman dan pamit pulang.   
Sebuah kertas dilipat rapi yang kemudian saya buka. Cukup terhenyak ketika membuka isi apa. Disana ada gambar struktur kelas. Detil dengan gambar kursi dan meja. Serta gambar kepala-kepala siswa dan ditulisi nama-nama siswa yang ditulis di bawah gambar kursi. Tetlihat di ambil dari angel atas. Ada kursi satu yang kosong di pojok sebelah kanan Namanya Dida. Setelah saya perhatiakn baik-baik, ternyata Dida tergambar di depan kelas bersama saya berdiri disana.
“MasyaAllah, ternyata anak ini menggambar agar saya lebih mudah mengenal serta mengingat nama-nama siswa yang ada di dalam kelas tersebut.” Saya membatin. Dan saya menyesal telah menilai dengan pikiran yang negatif dan sempat merasa jengkel.   
                                                          ******
Adapun beberapa percakapan yang sempat saya ingat terkait kedisiplinan dan ketelitian pada saat saya bekerja. Biasa lewat celetuk-celetukan mereka itu saya banyak melakukan perubahan. Tentu saja kearah yang lebih baik.
“Ustadzah, kalau memberi nilai itu hati-hati. Jangan bnyak bekas tipe x nya. Kan jorok diliat. Guru itu harus teliti” Celetuk Aisyah Farzanah.
                                                          *********
“Ustadzah, koq panjang pendek  dan mahroj  bacaannya gag di perbaiki waktu teman-teman muro’jaah?” tanya Aisyah Farzanah.
“waaa..iya yah. Astagfirullah. Nanti ustadzah lebih teliti lagi”  Jawabku. Padahal hari itu saya memang lagi proses belajar. V.V
                                                          *********
Suatu saat, ketika saya mengerjakan latihan soal-soal ulangan Pendidikan Agama Islam.
“Baik soal nomor selanjutnya. Surah As-Saff, termasuk surah...” kata saya membacakan soal.
“Makiyaaaaah” Jawab siswa di dalam kelas. Kecuali satu orang. Diam
“Madaniyah, Ustadzah” Seketika pula Aisyah menjawab.
“eeem begitu ya” Sayapun mengecek lembar jawaban  yang telah diberikan dari ustadz yang harusnya mengajar materi PAI. Dan di sana tertulis, Makiyah.
“Baik kalau begitu, coba dicek masing-masing Al Qur’annya!” Perintah saya pada siswa. Kemudian, mereka langsung sibuk membuka surah yang sudah saya intruksikan.
“Madaniyah, Ustadzah” Kata Nur Aliyah setelah melihat lembar Al Qur’an yang ia pegang.
“Tuu kan Ustadzah. Kalau saya bilang itu, ya itu. Ini ya Ini. Karena insyaAllah jawabannya pasti benar“ Jelas Aisyah Farzanah, puas dengan jawaban yang telah ia berikan.
“Hebat. Aisyah Farzanah. Terima kasih ya sudah mengingatkan.” Jawabku bangga. Teman-teman yang lainpun sontak langsung tepuk tangan.      

                                                          ***** 
Nah pada paragraf ini. Saya akan menceritakan karakter-karakter anak dalam kelas kecil yang saya pegang beberapa bulan ini.
1.    AFIFAH SALSABILAH NURKHALISAH
Karakternya, suka menceritakan berbagai hal yang telah ia capai dalam sehari. Ceria.  Agak malas ketika diberi intruksi dalam proses belajar. Namun suka sekali menghapal pelajaran.



2.    AISYAH FARZANAH
Karakternya, teliti. Pengingat yang baik. Tegas. Cerdas. Suka membaca. Idealis. Suka memberi masukan arahan pada teman-temannya bahkan pada guru sekalipun. Jangan sekali-kali menunjukkan pelanggaran didepan anak ini. Nanti kalian akan dicap sebagai pelanggar aturan. Dan akan mengurangi kepercayaannya jika anda adalah partner kerjanya. Jika kalian tidak menjelaskan secara rasional alasan kenapa kalian melanggar aturan tersebut. Namun sayang ia tidak suka ditunjuk sebagai pemimpin.

3.    AULIA VERDA
Karakternya. Suka berimajinasi. Suka berbagi cerita terkait pengalaman atau hal-yang ia anggap menarik. Suka sekali menggambar. Memiliki rasa peduli yang tinggi. Namun agak malas jika diberi intruksi pada saat proses belajar. Suka lupa. Dan kurang teliti.

4.    BALQEES UMMI AMEERA
Karakternya. Penyayang. Giat Belajar. Pintar. Suka membaca. Dan tidak suka jika seseorang masuk dalam ranah privasi tanpa seizinnya. Hal itu akan menyebabkan kurangnya kepercayaan terhadap partner  belajar.

5.    BELINDA SYAHPUTRI SYAM
Karakternya, riang. sangat sekali bercerita tentang hasil imajinasnya. Berkespresi. Menarik. Lucu. Dan selau membuat teman-temanya di sekelilingnya tertawa. Dan ia adalah seorang yang pemaaf. Penurut. Dan rajin mengerjakan tugas sekolah.

6.    DAVINA AURELIA SALIM
Karakternya, penyayang, pendengar yang baik, giat belajar, suka membaca. Penurut. Namun anaknya sedikit agak kasar. Namun dapat menjadi sahabat yang baik.

7.    ELLINIA NAFI'AH ZAHRAH
Karakternya, suka bercerita banyak hal. Sedikit berlebihan. Suka sekali bergerak. Penurut.

8.    NAFISYA AULIA
Karakternya, penyayang. Giat belajar. Suka bertanya. Cepat akrab dengan orang-orang yang ada di lingkungannya. 


9.    NOURA ALMIRA AISYAH
Kareakternya, pendengar yang baik. Suka bercerita. Berimajinasi. Menggambar. Suka sekali bermain.

10. NUR ALIYAH
Karakternya pendengar yang baik. Penurut. Pengamat. Memiliki inisiatif yang tinggi. Pembelajar yang baik. Suka mendengarkan. Tidak begitu suka banyak berbicara.

11. SHAFIRA RIZKA SANJAYA
Karakternya penghapal yang baik. Pengamat. Tidak begitu suka mendengarkan.

12. SHAQILHA AZIS NUR'QOLBI
Karakternya, pengamat. Pendengar yang baik. Penurut.

13. ZHAFIRA NAJLA KAMELA
Karakternya. Pembelajar yang baik. Memiliki jiwa pemimpin. Namun terkadang agak kasar.

Dari ke tiga belas siswa ini. Semunya memiliki kekurangan dan kelebihan masih-masing. Misal Aisyah Farzanah yang begitu cerdas, namun sangat malu ketika dijadikan ketua kelas. Adapun Zhafira Najla Kamela, ia seorang anak yang kurang minat dalam hal belajar melalui media audio atau membaca. Namun sangat hebat dalam hal lain. Misal mempengaruhi temannya terkait berbagai hal dan tentu saja memiliki jiwa pemimpin yang tinggi. Aulia Verda yang malas dalam menerima belajar dalam metode ceramah. Tapi memiliki jiwa sosial yang tinggi. Nafisya Aulia, yang agak loading terkait proses belajar, namun giat terus berlatih. Nur Aliyah, manja. Namun tinggi sekali dalam hal insiatif. Afifah, malas menulis, namun ia sangat mudah sekqali menghapal. Noura Almira, Manja. Namun dapat menjadi pendengar yang baik dan royal. Elllinia, Belinda, adalah anak yang cekatan. Shaqila agak loading dalam hal proses menerima pembelajaran. Namun dapat menjadi pendengar baik. Davina Aurelia. Manja. Namun Ia suka sekali membaca. Dan memiliki gudang pengetahuan. Ia dapat menyerap hasil bacaannya dengan mudah. Shafira. Gemuk. Namun aktif sekali bergerak. Dan tidak pernah merasa minder.Selalu semangat. Dan memberika motivasi buat teman-teman di kelasnya.

Saya pribadi sebagai wali kelas mereka selama enam  bulan, waktu yang singkat untuk menggali potensi mereka lebih jauh lagi. Dan tentu saja mendapatkan ilmu lebih banyak lagi dari mereka. Namun demi perkembangan pengetahuan mereka dan sistem sekolah yang mengatur saya harus ikhlas menerima kondisi yang ada.

Guru tidak selamanya menjadi pemberi ilmu. Jika kita membuka sedikit saja membuka mata dan hati dan mebuang jauh sifat angkuh, maka kita akan banyak sekali mendapatkan pengetahuan, bahkan dari murid kita sendiri, sebagai guru. 

Juita Rasmana, Balikpapan, 03 Juni 2018. 22.19
                                                                                                                                                                    **********

No comments:

Post a Comment

AGAMA : ISLAM 50%

Juita Rasmana, Balikpapan, 30 april 2018, 21.30 يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُ...