Blog Archive

Thursday, April 26, 2018

Belajar UMMI dan Cita-cita

Juita Rasmana. Balikpapan , 26 April 2018, 20:43.


Bismillah..

Sudah hampir setengah tahun aku bekerja di Yayasan Mutiara Rahmah milik Ustadz Abdul Fattah, Sejak aku resign  dari salah satu  SMP Negeri di  Balikpapan. Bekerja di sekolah negeri memang menjanjikan prestisius dikalangan masyarakat pada umumnya. Jelas, potensi jadi PNS, cita-cita oleh semua pegawai honor yang bekerja di bawah naungan Dinas milik negara. Tapi, entah kenapa. Semuanya waktuku tergunakan sebagian sia-sia. Setiap berangkat kantor kemudian pulang kembali, tidak ada menfaat yang bisa ku jadikan investasi akhirat. Sebenarnya ada. Semenjak aku mengajar di sekolah itu, aku sudah bisa menghadapi siswa, memberi nilai pada saat kenaikan kelas, bagaimana cara mengadapai orang tua siswa, bagaiamana berhadapan dengan teman sekantor, kesimpulannya adalah “Jadilah pendengar yang baik, walapun kamu sebenarnya adalah pembicara yang hebat”.  Maka itu akan jadi modal, kau akan disenangi oleh lingkungan kerja (sebagai tempat curhat ^0^). 

Ok. Kali ini aku tidak akan bercerita tentang sekolah sebelumnya atau tentang Bapak/Ustadz Fattah lebih detil. Tapi lain kali aku akan menulisnya di halaman blog lainnya.
Dalam pandanganku sebagai tenaga pengajar yang dari lingkungan sebelumnya yang sekuler.  Mutiara Rahma adalah  oase yang kucari-cari selama satu tahun terakhir ini semenjak selesai kuliah. Lingkungan yang islami, anak kecil yang lucu-lucu, dan yang terpenting aku dapat belajar banyak hal terkait islam dan belajar banyak hal baru lainnya. Tentu saja Yayasan ini memenuhi semua dahaga ini. Gaji adalah pilihan kedua, yang penting saya bisa belajar tanpa mngeluarkan banyak biaya. Dan disini, aku dapat ilmu dan tentu saja gaji yang cukup. Jazakallah khairan Ustadz Fattah, semua keluarga beliau, senantiasa dilimpah keridhoan Allah, kesehatan dan rizki yang cukup, serta bahagia dunia akhirat. Aamiin.

Bulan pertama aku mulai belajar menambah do’a-do’a dzikir sebelum belajar. Beradaptasi, mengamati, berkenalan. Bulan pertama itu, aku lebih suka banyak diam, ketimbang banyak cerita. dengan begitu aku lebih banyak merekam dan menyesuaikan dengan pola tingkahku kedepannya untuk dapat bersosialisasi dengan baik. Mencoba karab dengan anak waliku di kelas. Oh iya, aku adalah wali kelas dari kelas 4C Al Fatih. Tapi sekarang sudah dirybah namanya menjadi Abu Wafa. Tentu saja adalah perintah langsung dari Ustadz Fattah. Mungkin Karena Al-Fatih adalah Penakluk atau pejuang di medan perang, bukan ilmuan saintis (Yayasan punya visi membangun karakter Da'i dan saintis)

Yang paling mengesankan adalah ketika jam pagi, sebelum waktu shalat Dhuha, guru-guru di haruskan untuk menyambut kedatangan anak-anak. Lucuuuu....Wajah mereka segar,  rata-rata mata meraka bulat besar, bening, seperti boneka, polos, ceria.
“Assalamu’alaikum Miss (panggilan guru-guru perempuan yang belum menikah)”, sapa yang baru datang.

untuk siswa perempuan dapat salaman dengan guru yang perempuan sedang yang laki-laki dibiasakan tidak dan sebaliknya. Untuk yang laki-laki, tangan mereka cukup di katupkan di depan dada, kemudian mengucapkan salam.

Batas waktu jam kedatangan adalah pukul 07:30, lebih dari itu, maka siswa di katakan, terlambat. Sedang untuk seluruh karyawan paling lambat puku l07:15 wita, sudah harus berada di sekolah. Bulan pertama saya sering datang pukul 07:05 wita, bulan kedua sudah hampir terlambat, masuk bulan ketiga, terkadang datang terlambat lebih dari 10 menit, pukul 07:20 wita. Bagiku itu adalah kegagalan. T.T.....

                                                          *****

Di sekolah, ada jam khusus untuk belajar tahsin (belajar huruf hijaiyyah dengan penyebutan baik dan benar, panjang pendek bacaan, serta hukum-hukum bacaan Al-qur’an) aku belum begitu kenal dengan metode belajarnya. Tapi menurutku, ini menyenangkan. seperti tujuan awalku masuk kerja di Yayasan Mutiara Rahmah adalah belajar mendalami ilmu islam. Termasuk baca Al Qur’an. Para pengajar menggunakan Metode Ummi.

Metode Ummi yang aku dapatkan ketika pelatihan awal masuk MT, adalah;
-      Direct Methode            = Mengajarkan langsung pada pokok                                                           pembahasan(memberikan komentar bacaan).
-      Repetition                   = Mengulang-ulang bacaan.
-      Afection                      = Mengajar dengan kasih sayang yang tulus.
Motto : “Mudah, menyenangkan, menyentuh hati”.
VISI   : Menjadi lembaga terdepan dalam melahirkan generasi Qur’ani.
MISI   : - Mewujudkan pusat pengembangan  pembelajaran Al Qur’an
       -Membangun sistem manajemen
Buku Umii ada 8, yaitu; jilid 1-6, kemudian linjutkan belajar ghorib dan tajwid.
Mutu Guru     :
-      Tami
-      Menguasai Ghorib dan Tajwid
-      Membaca Al-Qur’an setiap hari
-      Menguasai Metodologi
-      Berjiwa da’i dan Murobbi
-      Disiplin waktu
-      komitmen pada mutu

7 PROGRAM DASAR UMMI :
1. Tashih (Pemetaan)
2. Tashih (Perbaikan bacaan Al Qur’an)
3. Sertifikasi (standarisasi metodologi)
4. coach (pendamping)
5. Supervisi (pengawalan mutu)
6. Munaqosah (ujian akhir siswa/santri)
7. Khotoman/intihan (uji publik siswa)
Metode pembelajaran UMMI, yaitu;
1. Private/ individual
2. Classic individual
3. Classic baca simak
4. Classic baca simak murni.
  
Pengaplikasian:
1. 5 menit persiapan
-      salam
-      tanya kabar
-      baca do’a pembuka
2. 10 menit hafalan ;
          - Apresepsi
          - pemahaman konsep
          - pemahaman
          - keterampilan
          - evalusi
3. Classical
          - Apresepsi
          - Pemahaman konsep
          - pemahaman
- keterampilan
4. 10 menit, baca simak
          - evaluasi
5. 5 menit, dril, penutup do’a
          - Drill materi
          - Drill hapalan
          - do’a penutup.

keyword :
-       diulangi!
-       jangan lupa dibuka mulutnya!
-       yang ini dibaca...
-       yang ini hurufnya....
-       anak-anak, yang sudah dipelajari..
                            
                                                     *******

Nah, begitu yang ada dicatatan pelatihanku selama 1 minggu, dulu (awal bulan januari 2018). Satu saja niatku. Aku hanya ingin bisa baca AL Qur’an secara terampil. kemudian kelak akan ku ajarkan dengan anak cucuku. Aku suka bisnis, dan aku senang ketika belajar islam, aku bisa tahu keuntungan yang tidak ada habisnya. Yaitu amal jariyah. Salah satunya adalah mengajarkn Al-Qur’an.

Jika di flashback , 6 tahun lalu (kuliah semester 1-2 di Fakultas Seni dan Desain), aku yang sering bolos pada saat jam belajar tahsin, kuliah pendidikan agama islam. waktu SMA pun begitu, segera mencari tempat aman ketika pelajaran bahasa Arab. Aku tidak suka pake kerudung, dan anti. Aku pernah coba menggunakan kerudung, selendang. tapi, tetap saja tidak nyaman. Dan aku menjadi bukan seperti diriku sendiri, aku menjadi seperti orang lain. Entahlah, kenapa dulu aku begitu tidak respect sama sekali dengan agamaku sendiri. Yang aku tahu, agama itu adalah sesuatu yang membosankan. Isinya hanya cerita surga dan neraka. Namun, sebenarnya takut juga ketika kurenungkan. Tapi sesaat hilang ketika ada teman ngajak main keluar.
Pada awal bulan April (semester 8),  akhir aku hijrah. Dan mengenal dan belajar lebih banyak tentang islam. Sekarang aku baru UMMI JILID II. Perjalananku masih panjang. Dan sekarang, cita-citaku yang ingin kugapai adalah.... jadi ibu rumah tangga dan guru ngaji. Dan sudah.... cukup, aku tidak ingin yang lain. Kalaupu  ada, itu hanyalah bonus dari Allah Azza wa Jalla.

Alhamdulillah.

Rasulullah bersabda:
“Sebaik-baiknya kamu adalah orang yang belajar Al-Qur’an dan yang mengajarkannya”
(HR. Bukhari)


AGAMA : ISLAM 50%

Juita Rasmana, Balikpapan, 30 april 2018, 21.30 يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُ...